Anak Petani yang Bercita-cita Menjadi Seorang Guru

  • 2021-11-24
  • Author : Anastasia Aprita Lusi Ekanaru
  • Views : 119
Foto: OBI

Saat ayahnya meninggal, Gea merasa sangat putus asa dan bingung.

Cita-cita Samaria Gea (15 thn) menjadi seorang guru wali kelas seakan kandas setelah ayahnya meninggal dunia pada bulan Juli 2021. Kedua orang tuanya adalah petani, kini tinggal ibunya saja yang bekerja untuk menghidupi Gea dan ketiga kakaknya. Hati Gea menjadi sangat hancur dan putus asa.

"Saya sempat kecewa sama Tuhan pada saat itu, saya seperti tidak bisa melihat masa depan lagi. Puji Tuhan, om dan tante saya mau merawat saya di rumah mereka dan membiayai keperluan sekolah saya," ujar Gea mengawali ceritanya.

Gea bersekolah di salah satu SMK di Nias. Tekadnya sangat kuat dalam belajar, terutama karena ia mengambil bidang kejuruan yaitu Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Namun jurusan ini tidaklah mudah, karena ia dituntut harus bisa menggunakan komputer, sementara Gea tidak punya komputer dan fasilitas komputer di sekolah pun sangat terbatas. Gea terpikir untuk mengambil les tambahan, Puji Tuhan om dan tantenya menyetujui niat baiknya.

Setelah Gea masuk di LKP (Lembaga Kursus dan Pelatihan) OBI Nias, ia merasa sombong kepada teman-teman dan gurunya di sekolah. Gea berpikir bahwa tak perlu lagi diajari oleh guru di sekolah karena ia sudah belajar di LKP OBI.

"Saya merasa lebih hebat dari teman-teman saya. Kesombongan ini terus menerus menguasai saya, saya juga punya sikap gampang emosi dan cepat marah. Kalau terpancing emosi saya cepat memaki dan mengucapkan kata-kata kotor. Akhirnya saya dijauhi teman-teman, saya marah dan memusuhi mereka. Lebih dari itu, saya juga punya sifat cemburu dan iri hati, bahkan pernah terfikir untuk mencuri tetapi belum saya lakukan."

Pada beberapa kesempatan Gea menonton video di LKP OBI Nias, salah satunya berjudul “Kenakalan Anak SMA”. Tayangan ini menceritakan kenakalan anak-anak sekolah yang merasa dirinya hebat, pintar, kaya dll, dan di akhir kisah tersebut ada perkataan yang mengatakan: “Bahwa kalau kita itu bisa, semuanya itu bukan dari kita tetapi oleh karena kebaikan Tuhan kepada kita”. Melalui perkataan itu Gea mulai menyadi kesalahannya pada teman-teman dan gurunya di sekolah.

Gea terus bergumul untuk mengubah sikapnya dan mau minta maaf kepada teman-teman serta gurunya. Sebelum Gea meminta maaf mereka, ia berdoa kepada Tuhan terlebih dahulu untuk meminta pengampunan.

"Saat ini saya dan teman-teman sudah berdamai dan berteman dengan baik seperti dulu lagi. Saya juga berterima kasih kepada LKP OBI NIAS yang telah memberikan saya banyak hal baik dari segi ilmu komputer maupun dalam pembinaan karakter saya. Sekarang ini saya sudah pintar dan mahir menggunakan komputer, pasti saya bisa meraih cita-cita saya sebagai guru wali kelas nantinya," tutup Gea menceritakan kisahnya.

Share this article :
https://www.oborberkat.com/patner/donation.html