Secercah Cahaya Di Hidup Yoel

  • 2020-11-26
  • Author : Anastasia Aprita Lusi Ekanaru
  • Views : 126
Foto: OBI

Perkataan ibunya membuat Yoel berubah dan melanjutkan sekolahnya.

Yoel Chandra (21 tahun) adalah anak bungsu dari tiga bersudara. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan yang kurang baik bagi anak-anak. Namun seperti pada umumnya, Yoel tumbuh ceria dan aktif. Ia senang sekali bermain hingga lupa waktu, orang tuanya sampai memberi batasan waktu bermain dan tak segan memukulnya jika melanggar batasan tersebut.

Sewaktu Yoel duduk di bangku SMP, ia tumbuh menjadi remaja yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Keinginannya untuk mencoba banyak hal baru juga sangat tinggi, sehingga ia mulai terjebak mengkonsumsi narkoba yang diberikan oleh temannya. Tetapi karena tidak mempunyai uang untuk membelinya, perlahan Yoel tidak mengkonsumsinya lagi.

Memasuki SMK, Yoel menjadi anak yang sangat nakal. Saat masih di kelas 1 SMK, ia sampai membolos selama 3 bulan, atas kebaikan Kepala Sekolahnya ia tetap dapat melanjutkan ke kelas 2. Namun bukannya perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Yoel, ia malah mengulang kembali kesalahannya, hingga dikeluarkan dari sekolahnya.

"Bisa terbayangkan sedihnya hati orang tua saya saat itu, yang pasti mereka sangat kecewa, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena saya belum berubah juga. Setelah satu tahun berlalu, barulah penyesalan mulai menghantui saya. Mulai terasa masa depan yang suram akibat tidak sekolah, efeknyapun mulai terasa pada kepribadian saya. Saya yang dulu selalu gembira dan ceria mulai menjadi Yoel yang pemurung. Pada tahun kedua, mulailah saya membuka diri dengan bekerja menjadi operator di salah sebuah warnet dekat rumah saya. Pada saat itu saya memutuskan untuk belajar apapun yang saya temui di internet, termasuk belajar Bahasa Inggris. 1 tahun lamanya saya bekerja di warnet kemudian saya mendapat pekerjaan baru di suatu gudang. Pernah pada suatu kali Ibu berkata kepada saya: “Yoel, apa kamu mau hidup seperti ini terus?”, saat itu saya baru mulai berfikir. Kata-kata ibu saya terus tertanam di pikiran saya. Orang-orang sekeliling saya juga mulai memandang saya sebelah mata. Akhirnya saya memutuskan berubah, waktu itu saya mendapatkan informasi mengenai sekolah OBI yang tidak memungut biaya. Kemudian saya mendaftar mengikuti paket C (Setara SLTA) di bulan Juni 2020."

Yoel sangat senang karena guru-guru dan teman-teman menerimanya apa adanya. Puji Tuhan saat ini perlahan namun pasti ia ingin berubah menjadi lebih baik lagi dan merubah sikap agar memiliki rasa tanggung jawab. Harapan Yoel sekarang adalah untuk meraih cita-citanya dan melanjutkan pendidikannya samapai ke abnagku kuliah. Dan saat ini ia sudah menjadi Yoel yang ceria dan aktif lagi, namun dengan versi yang lebih baik. 

Share this article :
https://www.oborberkat.com/patner/donation.html