Dari Pemalu Menjadi Anak yang Pemberani

  • 2020-11-18
  • Author : Anastasia Aprita Lusi Ekanaru
  • Views : 62
Foto: OBI

Awal mulai masuk sekolah, ia sering menangis sampai merengek sehingga banyak siswa yang terganggu.

Dastan Pradipta Barus adalah anak pertama, lahir di Jakarta 10 Desember 2014. Ayahnya bernama Rudolvo Barus dan Ibunya Nur Rohman Doni. Sejak umur dua tahun Dastan diasuh dan dirawat oleh neneknya yang bernama Ati, karena ayah dan ibunya sibuk bekerja. Ayahnya bekerja sebagai karyawan minimarket dan ibunya buruh harian lepas, mereka tinggal di Sunter dengan jarak tempuh kurang lebih 8 km dari tempat neneknya. Selama Dastan diasuh oleh neneknya, ia sangat dimanja. Apapun yang Dastan minta selalu dipenuhi oleh sang nenek, jika tidak dituruti maka ia akan menangis sampai merengek-rengek. Ketika datang ke sekolah dia sangat tidak percaya diri, sering menangis di dalam kelas dan tidak mau ditinggal oleh sang nenek, hal itu mengakibatkan situasi kelas terganggu. Mengatasi hal tersebut, para guru memisahkan ia dari teman-temannya dan membawanya ke dalam ruang khusus, serta menasihatinya sampai dia berhenti menangis dan mau mengikuti kelas, agar dapat bermain dan belajar bersama dengan teman-teman yang lainnya. Hal ini berlangsung selama 3 bulan. Setiap hari, Guru-guru terus memberikan dorongan dan motifasi untuk melatih Dastan agar percaya diri dan dapat bersosialisasi dengan teman-temannya. Guru-guru melatihnya dengan mengajak Dastan untuk ambil bagian dalam bermain secara berkelompok dan bermain peran. Diwaktu senggang, para guru juga sering mengajak Dastan untuk bercerita dan melakukan pendekatan agar dapat mengetahui kepribadian Dastan dengan baik.

“Alhamdulillah, sekarang Dastan sudah mandiri, dan kalau diajak berpergian saya sudah tidak malu lagi untuk ajak Dastan kerumah teman-teman saya. Karena sebelumnya Dastan itu cengeng sekali,” demikian yang diucapakkan oleh Ibu Nur, ibunya.

Saat ini Dastan, sudah berkembang dengan sangat baik terbukti dari anaknya yang sudah mau bersosialisasi dengan temannya, mau mengerjakan tugas sendiri dan tidak perlu ditemani oleh sang nenek ketika berada di dalam ruang kelas. Bahkan saat ini, dia sudah bisa membaca kalimat sederhana dan berani tampil di depan kelas.

“Tidak sia-sia, saya bawa Dastan bersekolah Di OBI. Padahal sebelumnya saya tanya ke orang-orang dimana sekolah OBI, sampai akhirnya saya menemukan sendiri dan mendaftarkan cucu saya disekolah OBI,” demikian penuturan Bu Ati, nenek Dastan.

Share this article :
https://www.oborberkat.com/patner/donation.html