#LoveInAction: Remaja 18 Tahun Menjadi Tulang Punggung Untuk Kedua Adiknya

  • 2020-07-30
  • Author : Anastasia Aprita Lusi Ekanaru
  • Views : 151
Foto: OBI

Sebelum terjadinya wabah Corona, ia bekerja mengumpulkan pasir di sungai Sawo.

Sejak Februari 2020, setelah Ibunya pergi meninggalkan mereka dan pergi ke Pekanbaru untuk bekerja di sana, Conni Putra Telaumbanua (Lk, 18 Thn), anak pertama dari empat bersaudara, harus menjadi tulang punggung keluarga untuk kedua adiknya yang masih kecil, sementara adiknya yang satu lagi, tinggal bersama pamannya. Sekalipun masih punya ayah dan ibu, tetapi ayahnya menurutnya tidak perhatian lagi dan tidak memikirkan nasib mereka, bahkan ayahnya sering mabuk setiap kali pulang ke rumah dan mengancam Conni dengan parang.

Conni belum bisa melanjutkan pendidikannya karena tidak ada biaya, saat ini ia tengah berjuang untuk ketiga adiknya, agar mereka bisa makan setiap hari dan tetap bersekolah. Sebelum terjadinya wabah Corona, ia bekerja mengumpulkan pasir di sungai Sawo yang tidak terlalu jauh letaknya dari depan rumah mereka. Namun karena sepi pembeli, akhirnya ia beralih profesi menjadi kernek mobil pengangkut barang/pasir. Lagi-lagi, pada pekerjaannya tersebut, ia belum dapat membawa pulang hasil yang cukup bahkan sekarang sudah 1 bulan lamanya, tidak bekerja karena tidak ada pekerjaan pengiriman barang. Ia hanya mengandalkan sisa tabungannya selama ini untuk membeli beras dan untuk membeli keperluan mereka bertiga, saat ditemui ia yang mempunyai 1 kg beras lagi, yang terduduk di sudut ruangan rumah mereka.

“Setelah ini, saya harus memikirkan bagaimana agar kami punya uang untuk membeli beras, berharap Corona ini segera berlalu dan saya bisa bekerja kembali” tandasnya.

Walau pernah sebelumnya, Conni memutuskan untuk minggat dari rumah, meninggalkan adiknya dan ayahnya yang sering marah-marah di rumah, tetapi pamannya memintanya untuk tetap bertahan dan berjuang semampu mungkin, demi untuk melindungi dan menjamin kebutuhan adik-adiknya. Menurut pamannya, kalau ia pergi, maka kedua adiknya pasti akan hidup menderita bersama dengan ayahnya, yang sama sekali tidak memikirkan nasib mereka. Ia akhirnya mengurunkan niatnya untuk pergi meninggalkan rumah dan memilih untuk menghidupi dirinya dan kedua adiknya di kampung halaman di Desa Onozitoli Sawo Kec. Sawo Kab. Nias Utara.

“Terimakasih atas pemberian tanda kasih ini, kami sangat terbantu karena beras kami tinggal 1 kg lagi, sebenarnya saya tidak sanggup lagi menjalaninya, tapi demi adik-adik saya, saya harus bekerja agar kami bisa makan setiap hari”, ucapnya.

Oleh:  Joni Arianto Nazara

Share this article :
https://www.oborberkat.com/patner/donation.html