Perilaku Negatif Seorang Anak Berubah Setelah Bergabung di Paket B Sekolah OBI

  • 2022-11-14
  • Author : Anastasia Aprita Lusi Ekanaru
  • Views : 185
Foto: OBI

Semangat untuk meraih masa depan yang lebih baik, membuatnya menemukan sekolah OBI.

Hampir setiap hari menghabiskan waktu untuk nongkrong, menenggak minuman keras, balap liar dan tawuran. Dwi Susilo (18 tahun) yang kerap dipanggil Susilo ini dikeluarkan dari sebuah sekolah swasta di Jakarta Utara. Hal itu terjadi karena ia terlibat dengan kasus tawuran, akhirnya ia putus sekolah di kelas 7.

“Saya tidak enak menolak tawaran kakak kelas saya waktu itu, sehingga saya mengikuti kemauannya untuk tawuran. Dengan berbekal clurit, saya ikut tawuran dan akhirnya ketahuan dari sekolah, sehingga saya dikeluarkan.” Ungkap Susilo mengenang kejadian masa lalunya.

Keluarga Susilo menetap di Tanah Merah, Jakarta Utara. Sering tertimpa pecahan kaca, ayah Susilo memutuskan keluar dari pabrik kaca tempatnya bekerja dan kini menjadi pekerja serabutan.

“Setelah dikeluarkan dari sekolah, waktu itu saya belum kapok juga dan masih tawuran. Saya ikut-ikutan teman saya di sekolah lain dan tidak disangka kepala dan tangan saya terkena bacokan. Tubuh saya penuh darah saat itu, saya mencabut sendiri clurit di kepala saya. Kemudian, saya dibawa ke rumah sakit. Hati saya sangat sedih saat melihat ibu saya seperti sudah pasrah dengan kondisi saya dan merelakan saya untuk pergi selama-lamanya. Saat itu saya berjanji kepada diri saya sendiri, kalau saya bisa sembuh saya akan berubah menjadi anak yang baik,” tambah Susilo.

Akhirnya Susilo sembuh. Kemudian ia mencoba untuk bekerja membantu perekonomian keluarga dengan bekerja pada perusahaan ekspedisi. Namun, ia juga menyadari tanpa bekal pendidikan yang cukup ia hanya akan bekerja seadanya.

Melalui temannya, Susilo mendengar ada sekolah gratis PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) OBI yang menyediakan pendidikan bagi anak-anak yang putus sekolah. Kemudian ia meninggalkan pekerjaan di ekspedisi untuk melanjutkan pendidikannya, demi masa depan yang lebih baik. Selanjutnya, ia mendaftarkan dirinya ke PKBM OBI. Ia mulai bergabung pada tahun 2021, mengambil Paket B (setara SMP).

Selama di PKBM OBI, Susilo termasuk anak yang rajin datang ke sekolah. Ia bersemangat dan penuh dengan impian. Ia bercita-cita suatu hari nanti akan menjadi seorang mekanik yang handal. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan sikapnya yang dulu. Saat ini Susislo sudah duduk di kelas 9 dan sedang menunggu untuk mengikuti ujian kesetaraan Paket B untuk mendapatkan Ijazah.

“Melalui sekolah OBI saya belajar disiplin, bertanggung jawab dalam menggunakan waktu untuk belajar. Dahulu jika ada guru yang menerangkan, saya kesulitan untuk memahaminya. Sekarang saya sudah serius belajar, sehingga saya mulai memahami setiap pelajaran yang diberikan oleh guru saya. Di sekolah OBI bukan hanya sekedar mengajar agar saya pintar, namun saya di sini juga diperlengkapi dengan pendidikan karakter. Disiplin dan kepribadian kami benar-benar dibentuk. Terima kasih kepada sekolah OBI yang telah memberikan saya kesempatan untuk kembali bersekolah.” Tutup Susilo menyelesaikan ceritanya.

Share this article :
https://www.oborberkat.com/patner/donation.html