Sekolah Gratis OBI Membuat Anak Tukang Urut Kembali Optimis

  • 2019-05-21
  • Author : Anastasia Aprita Lusi Ekanaru
  • Views : 648
Foto: OBI

16 tahun lalu Ilyas Thanayassin Ramadhan dilahirkan, ia diasuh oleh kedua orang tua bersama dengan kedua kakaknya. Ia bertumbuh sebagai seorang anak yang baik, sehat dan bahagia. Sampai suatu hari ia harus maenghadapi kenyataan bahwa kebahagiaannya harus pupus.

Ia beserta keluarganya terusir dari rumah yang sudah bertahun-tahun mereka tempati. Konflik besar dari keluarga ibunya, menyebabkan mereka harus memulai hidup baru di tanah merah. Jika sebelumnya tinggal di rumah sendiri yang nyaman dan besar, kini mereka menggatungkan hidupnya di dalam sepetak rumah kontrakan yang ditempati oleh 5 orang. Panas, sesak dan tidak memiliki apa-apa. Rasa tidak nyaman menjalani kehidupan yang baru membuat Ilyas kecil mulai merasakan luka dalam hatinya. Ia berubah menjadi anak yang pendiam, pasif, dan sulit untuk didekati.

Ilyas juga terpaksa harus berhenti sekolah lantaran tidak memiliki biaya. Setiap hari ia hanya menanti kabar baik untuk keluarganya, adakah pekerjaan yang baik didapatkan oleh orang tuanya? Hingga pada saat ibunya menawarkan jasa untuk menjadi tukang urut pada seseorang, kabar baik pun menghampiri. Bukan tentang materi, melainkan kabar bahwa ada sekolah gratis untuk menolong warga setempat, yaitu sekolah PKBM OBI tanah merah. Sejak 6 tahun yang lalu itulah ia bergabung menjadi siswa PKBM OBI. Hari demi hari berlalu, ia belum menunjukkan perubahan sikap. Pendiam, tertutup, sulit berbicara bahkan pemalu, telah menjadi kepribadiannya.

Beberapa tahun kemudian, ia bergabung dengan House Of Art mengambil kelas menyablon. Berjalannya waktu, ia pun belum menunjukkan perubahan. Seperti tembok yang ia bangun terlalu tinggi dan kuat sehingga sulit sekali untuk diruntuhkan. Hingga pada bulan Maret yang lalu, di kelas House Of Art diputarkan video motivasi dari seorang motivator bernama Merry Riana yang berjudul "Ujian Untuk Belajar". Yang dimaksud adalah bagaimana dalam kehidupan setiap peristiwa yang terjadi jika kita sadar merupakan sebuah ujian untuk kita menjadi manusia yang tangguh, mampu melewati proses kehidupan menuju kesuksesan.  Setelah selesai menyimak video tersebut, ada sesi untuk mendiskusikannya, saat itulah Ilyas mencurahkan segala isi hatinya tentang peristiwa beberapa tahun lalu.

"Dulu saya tidak seperti ini kak, dulu saya memilliki banyak teman, dan tidak pendiam juga" begitu katanya. "Tapi semenjak peristiwa besar itu, saya mulai berfikir dan mempertanyakan mengapa harus terjadi seperti ini? Kecewa tentu saja, marah sudah pasti. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih menyakitkan lagi ketika faktanya bahwa saya harus putus sekolah, hidup seperti tidak berarti." lanjutnya. Dan ia memutuskan untuk mengampuni dan belajar untuk bersyukur dengan proses yang sedang dialami oleh keluarganya. Harapan kedepan adalah ia mau terus melewati proses hidup dengan lebih optimis.

Share this article :
WEEKLY REPORT
http://www.oborberkat.com/patner/donation.html