Bullying Pada Anak Sebabkan Depresi

  • 2017-07-18
  • Author : Monica Arti Wijaya
  • Views : 1149
foto : obi/monica

Jangan pernah meremehkan seseorang dengan gangguan depresi di sekitar anda terlebih ketika mereka pernah menyatakan keinginan untuk mengakhiri hidup mereka. Tekanan sosial ekonomi seringkali menjadi penyebab seseorang mengalami depresi, sehingga jika tidak segera ditangani akan menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

 

World Health Organization (WHO) mencatat bahwa setiap 40 detik, satu orang meninggal karena bunuh diri secara global. Sedangkan data dari World Health Statistics WHO tahun 2016, Indonesia memiliki rata-rata kematian akibat bunuh diri sebesar 4,3 per 100.000 orang. Demi memberikan perhatian terhadap kesehatan mental masyarakat dunia, tahun ini WHO mengangkat tema "Depression : Let's Talk".

 

Amanda Todd adalah salah satu dari sekian banyak remaja yang melakukan bunuh diri akibat depresi. Remaja 15 tahun ini sering mendapat bullying yang bertubi-tubi dalam kurun waktu yang cukup lama dari teman-teman sekolahnya. Amanda sempat mendapat pertolongan dari psikiater dan berpindah sekolah, namun kekerasan verbal berupa bullying yang dialami Amanda masih terus terjadi.

 

Bullying, depresi dan bunuh diri seringkali berkaitan dalam sejumlah kasus permasalahan remaja di dunia. Bullying merupakan perilaku mengontrol orang lain dengan cara kekerasan yang sering dilakukan secara verbal maupun fisik. Bullying sering sekali terjadi pada kelompok anak dan remaja, sehingga orang dewasa perlu memberikan edukasi yang tepat bagi anak-anak mereka.

 

Pemerhati anak dari Obor Berkat Indonesia, Susiati Rahayu menyatakan bahwa dukungan keluarga menjadi hal yang paling dibutuhkan oleh anak khususnya ketika anak mengalami depresi. Sebab keutuhan dan keharmonisan keluarga dapat membawa ketenangan pada anak baik secara fisik maupun psikis. Tak hanya memberikan kasih sayang bagi anak yang menjadi korban bullying, ketegasan sebagai konsekuensi terhadap perilaku anak juga perlu diterapkan untuk mencegah anak menjadi pelaku bullying dikemudian hari.

 

Dalam kompas.com 4/12/2009, dr Hervita Diatri, pengajar Divisi Psikiatri Komunitas dan Trauma Psikososial, Departemen Psikiatri Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa orang-orang justru seringkali mengabaikan penderita depresi yang sedang mengalami gejala bunuh diri.

 

”Orang yang kelihatan selalu ceria belum tentu bisa terbuka terhadap orang lain bila sedang memiliki masalah. Ia justru menutupi masalah dengan keceriaannya tadi,” kata Yati.

 

Menurut Yati, setiap orang harus menyadari gejala-gejala tersebut jika mungkin terjadi pada orang terdekatnya, mampu berbicara dari hati ke hati serta memberikan motivasi. Penderita depresi memang sangat sensitif sehingga kita perlu menawarkan bantuan semampu yang kita bisa, mendengar keluh kesahnya dan membawa penderita ke psikiater untuk mendapatkan pengobatan.

Share this article :
WEEKLY REPORT
http://www.oborberkat.com/patner/donation.html