Ketika Anak Menjadi Korban Bully di Sekolah

  • 2016-09-19
  • Author : Monica Arti Wijaya
  • Views : 1031
Designed by Jcomp / Freepik

Kasus kekerasan anak di Indonesia setiap tahunnya semakin bertambah. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus kekerasan pada anak di tahun 2013 mencapai 4311 kasus sedangkan di tahun 2014 meningkat hingga 5066 kasus. Dari data tahun 2014, 1.480 kasusnya merupakan kasus kekerasan dibidang pendidikan.

 

Tragis, jika sekolah sebagai tempat belajar mengajar yang dianggap aman justru menjadi tempat terjadinya perilaku bully yang memicu depresi pada anak. Seorang anak tentu tidak dapat mengikuti proses belajar dengan baik jika berada pada situasi yang tertekan. Tekanan inilah yang disebut dengan bully, atau dengan kata lain anak mengalami ancaman secara fisik maupun psikis yang kemungkinan berlangsung setiap hari di lingkungan sekolah.

 

"Orang tua perlu menyiapkan waktu mendampingi anak dengan berbicara dari hati ke hati untuk memberi support ketika anak mengalami bully. Dalam pendampingan, orang tua terus memberi penjelasan bahwa ia adalah anak yang berharga sekaligus ditekankan bahwa anak harus tetap menjadi diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh perkataan buruk dari orang lain. Namun jika kasus bully masih terus berlanjut, alangkah baiknya untuk berbicara langsung dengan orang-orang yang bersinggungan langsung dengan pelaku bully misalnya orang tua dan guru," ungkap pemerhati anak dari Obor Berkat Indonesia, Susiati Rahayu.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa dukungan keluarga menjadi hal yang paling dibutuhkan oleh anak khususnya ketika anak mengalami depresi. Sebab keutuhan dan keharmonisan keluarga dapat membawa ketenangan pada anak baik secara fisik maupun psikis. Tak hanya memberikan kasih sayang bagi anak yang menjadi korban bully, ketegasan sebagai konsekuensi terhadap perilaku anak juga perlu diterapkan untuk mencegah anak menjadi pelaku bully dikemudian hari.

 

Demi menekan angka kekerasan di sekolah, diperlukan kebijakan menyeluruh yang melibatkan semua pihak mulai dari guru, siswa, wali kelas, kepala sekolah dan orang tua murid. Dengan suasana yang menyenangkan dan nyaman dapat merangsang anak untuk semakin giat belajar dan mengembangkan potensi siswa baik akademik maupun sosial. Saat ini, OBI masih terus ikut berkontribusi untuk mendukung gerakan anti bully dengan menyelenggarakan berbagai sosialisasi di sekolah-sekolah. Bulan September sosialisasi anti bully diberikan bagi siswa kelas satu hingga kelas enam di SDS Dian Harapan Jakarta Utara pada minggu pertama dan minggu ke dua.

Share this article :
WEEKLY REPORT
http://www.oborberkat.com/patner/donation.html