Tuhan, Mesin ATM

  • 2014-07-03
  • Author : Yuliana Martha Tresia N
  • Views : 1972
Edisi 25-Tuhan, Mesin ATM

Sebuah mesin ATM yang berdiri di sebuah pojokan mall, yang hanya terlindungi sekotak dinding kaca yang mengelilinginya itu, tidak pernah sepi pengunjung.

Selama kehidupan seantero mall hari itu masih berdenyut, orang-orang akan selalu datang. Darimana saja. Entah masih remaja, atau sudah berumur tua. Sendiri, atau berdua bertiga. Mengambil selembar Rupiah seratus ribu, atau puluhan lembar uang seratus ribu. Bagaimanapun situasinya, mesin ATM itu selalu berdiri di pojok itu. Menanti, untuk memberikan apa yang dicari oleh orang-orang yang menghampirinya setiap hari. Hanya saja, ia tak selalu sanggup melakukannya. Ada waktunya lembaran Rupiah yang dijaganya habis, ketika terlalu banyak orang datang berkunjung, meminta lembaran-lembaran berharga itu. Sayangnya, banyak pengunjung yang tak mendapatkan apa yang ia cari, kemudian mengeluh dan memaki. Sebuah simbolisasi kekecewaan yang diungkapkan hanya dengan emosi, tanpa rasionalisasi.

 

Sedihnya, seperti itulah kadang, manusia memandang dan memperlakukan Tuhan Maha Kuasa yang menciptakannya. Ya, seperti mesin ATM. Hanya datang ketika butuh, pergi setelah mendapatkan keinginannya. Bahkan, mengeluh dan mengomel sendiri, ketika lama mendapatkan jawaban dari daftar doa-doanya, atau ketika mendapatkan jawaban doa yang tidak seperti yang diinginkannya. Doa pun, menjadi sebuah cara ‘pintas’ manusia untuk ‘sekedar’ meminta. Kita berdoa, bukan karena kita ingin menjalin hubungan dan komunikasi yang dekat dengan Tuhan yang kita kasihi dan juga mengasihi kita. Kita berdoa, karena kita punya ‘daftar’ permintaan yang ingin kita ajukan kepada Tuhan. Kita berhenti berdoa, jika kita merasa tidak butuh Tuhan, atau ketika Tuhan mengizinkan berkat dan kebaikan ‘menyamar’ dalam bentuk penderitaan.

 

Tuhan Sang Pencipta itu, memang adalah Tuhan Sumber Segala Sesuatu Yang Baik, yang tidak akan pernah kehabisan segala sesuatu yang baik untuk diberikan kepada manusia. Hanya saja, kita harus mengingat kalau Tuhan jelas bukanlah mesin ATM kita. Tuhan bukanlah ‘mesin’ yang bisa kita ‘hambakan’ dan kita tuntut untuk memenuhi apa yang kita inginkan. Sebaliknya, Dialah Tuhan, dan kitalah hamba. Kitalah yang seharusnya memenuhi apa yang diinginkan hati-Nya. Tapi, sering kali, manusia membalikkan arah panah hubungannya kan? Bagaimana dengan kita? Adakah kita memandang Tuhan ‘sebatas’ mesin ATM, sadar maupun tidak sadar?

Tags : Miscellaneous
Share this article :
WEEKLY REPORT
http://www.oborberkat.com/patner/donation.html